Seperti angin membedai, kau tak melihatnya, kamu merasakan kejarnya saat ia memndahkan gunung pasir di tengah gurun, atau merangsang amuk gelombang di laut lepas, atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat, hanya terasa, tapi dahsyat.
Seperti banjir menderas, kau tak kuasa mencegahnya, kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu, ia kembali tenang seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta, ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar.
Seperti api menyala-nyala, kau tak kuasa melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun, atau berteduh saat matahari membakar permukaan kulit bumi, atau meraung saat lidahnya melahap bangunan tinggi di tengah kota, hutan-hutan dan, seketika semua menjadi abu; semua telah tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan sebagai angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.
Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, mutiara bagi ribuan makna, wakil dari sebuah kekuatan yang tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Errich Fromm tidak tertarik atau bahkan tidak sanggup mendefinisikannya, atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi baginya.
Bila panah cinta telah menghujam hati dan jantung, maka tiada yang dapat dilakukan kecuali mengikuti jalan cinta. Dalam cinta, keindahan menyimpan kepahitan, dan dalam kegetiran terselubung rasa nikmat. Hanya cinta yang memenuhi pikiran pemuda dan gadis. Kedua insan larut dalam pesona cinta yang nikmat, dihiasi dengan senyum dan tangis rindu. Mereka melewatkan waktu hanyut dalam bahasa jiwa, terkesima dengan cinta yang ada di dalam hati. Mereka seolah berada di taman surgawi dengan gemercik air nan sejuk mengalir.
Jalan yang mereka lalui seperti dihiasi berbagai macam bunga yang indah dan harum, kata-kata mereka sehangat udara musim panas. Bagi mereka, matahari seolah diciptakan karena cinta, rembulan bersinar juga karena cinta. Dan, bila tak ada cinta, maka mustahil air laut mencapai pantai. Setiap tatapan mata adalah ungkapan perasaan dalam hati, karena cahaya mata mampu mengungkapkan ribuan pujian yang tak mampu diucapkan oleh lidah. Ibarat perahu, hanya pada diri gadis saja, jiwa pemuda dapat berlabuh. Begitulah kayalan seseorang yang sedang jatuh cinta..
Bila panah cinta telah menghujam hati dan jantung, maka tiada yang dapat dilakukan kecuali mengikuti jalan cinta. Dalam cinta, keindahan menyimpan kepahitan, dan dalam kegetiran terselubung rasa nikmat. Hanya cinta yang memenuhi pikiran pemuda dan gadis. Kedua insan larut dalam pesona cinta yang nikmat, dihiasi dengan senyum dan tangis rindu. Mereka melewatkan waktu hanyut dalam bahasa jiwa, terkesima dengan cinta yang ada di dalam hati. Mereka seolah berada di taman surgawi dengan gemercik air nan sejuk mengalir.
Jalan yang mereka lalui seperti dihiasi berbagai macam bunga yang indah dan harum, kata-kata mereka sehangat udara musim panas. Bagi mereka, matahari seolah diciptakan karena cinta, rembulan bersinar juga karena cinta. Dan, bila tak ada cinta, maka mustahil air laut mencapai pantai. Setiap tatapan mata adalah ungkapan perasaan dalam hati, karena cahaya mata mampu mengungkapkan ribuan pujian yang tak mampu diucapkan oleh lidah. Ibarat perahu, hanya pada diri gadis saja, jiwa pemuda dapat berlabuh. Begitulah kayalan seseorang yang sedang jatuh cinta..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar