PAGI sejuk di lereng gunung Slamet, beberapa perempuan muda memasuki ruangan dengan bangku yang sudah tertata rapi. Yap, kebetulan kampus berada di lereng gunung tepatnya di Baturraden, Jawa Tengah. Hari itu adalah hari pertama setelah
diselenggarakan Pengenalan Program Studi (PPS) oleh institusi pendidikan kami, kami belum mengenal lebih dekat tetapi
saling melempar senyum. Beberapa masih berkelompok dengan teman akrab yang
ditemui saat PPS, ada yang sendiri sibuk dengan gadgetnya, dan tidak sedikit
dari mereka yang sibuk bercerita tentang kehidupannya masing-masing.
Berada di lingkungan baru yang sangat berbeda saat masih
berada di bangku SMA bukan merupakan hal mudah. Hal yang paling mencolok adalah tidak ada satu
mahasiswa-pun di dalam kelas, iya kami semua adalah wanita. Tak ada penengah saat timbul konflik, tidak ada
pemimpin yang sanggup mendengarkan celotehan wanita-wanita muda sebanyak ini.
Aku bernafas panjang dan memandangi sekeliling, ini hari pertamaku kuliah.
Sehari pertama dan waktu terus berjalan. Mata kuliah A
dianggap menyenangkan dan mata kuliah B sudah diprediksikan banyak hafalan yang
akan menguras tenaga. Dosen A terlalu banyak bercerita tentang dirinya, dosen B
terlalu serius dalam menyampaikan materi. Belum sehari penuh sudah punya penilaian di hari pertama ini.
“Aku kuliah disini karena disuruh orang tuaku”
“Nggak lolos SPMB, yaa terpaksa masuk sini”
“Kayaknya setelah lulus, keren dengan gelar ini dech…”
"Nanti kalau punya banyak pasien, balik modalnya cepet"
Demikian kutipan alasan kuliah di jurusan ini, masih di hari pertama.
Wajib untuk tinggal bersama di asrama kampus selama satu tahun,
untuk orang seperti saya adalah bukan hal baru tinggal bersama orang lain
seperti ini. So far, sebanyak apapun
peraturan di asrama selama sudah enjoy dari awal pasti tak menjadi masalah. Asrama kami tidak seperti asrama megah bertingkat, dengan pemandangan sawah membentang di sebelah selatan, dan dengan gagah gunung Slamet berada di sisi sebelah utara.
Gunung Slamet di sejuknya pagi, Baturraden
Perjuangan tahun demi tampak begitu sulit, beberapa mulai
mengeluh, ada juga yang menangis, ada juga yang merasa “saya salah ambil jurusan”. Seketika semua terhapus saat kami bisa
menyelesaikan studi selama 6 semester dilampaui. Banyak kegiatan menyenangkan di sela-sela kuliah. Praktek dengan manekin, presentasi kasus, belajar memberikan konsultasi, praktek lapangan hingga ujian akhir program.
Praktek dengan manekin
Praktek yang sesungguhnya
Kami ber 45 tanpa berkurang satupun menjalankan kegiatan perkuliahan selama tiga tahun, Banyak konflik, tangis, tawa, dan emosi lain yang merupakan bagian dari proses pendewasaan. Namun jika kita tetap kuat dan percaya kemampuan, pasti cita-cita dalam menyelesaikan study tepat waktu tak akan tercapai. Akhirnya pada tanggal 72 Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang, kami resmi di wisuda sebagai bidan, Perantara malaikat kecil Bunda.
Wisuda ke 72 Poltekkes Semarang


Tidak ada komentar:
Posting Komentar